SIAPA MAU LELANG BUKU BANTEN?

hfhdd1.jpgOleh Ibnu Adam Aviciena

Kuliah Islamic Studies di Belanda saya merasa biasa-biasa saja. Saya tidak menemukan hal-hal aneh. Ini saya kira karena saya lahir di lingkungan Muslim dan menjadi Muslim. Sejak kecil sudah biasa pergi mengaji, masuk pesantren, sekolah di Madrasah Tsanawiyah Cibaliung-Pandeglang, Aliyah Mathla’ul Anwar Menes-Pandeglang, dan kuliah di IAIN Banten. Dalam satu tahun kuliah ini hanya empat pelajaran yang saya pelajari: Methods and Principles, Text and Transmission, Antrophology of Muslim Societies, dan Comparative Study of Religion. Hingga sampai batasan tertentu, saya menyimpulkan bahwa kita, apabila punya buku yang banyak, tak usah kuliah ke luar negeri.

lumbung-jualbuku2.jpgTetapi tentu saja masih banyak hal lain yang menyebabkan kita perlu belajar kepada orang lain dan di tempat yang berbeda. Sebab pada kenyataannya saya cukup mendapatkan banyak pelajaran di luar kelas dan sama pentingnya dengan pelajaran yang saya dapatkan selama jam kuliah. Salah satu pelajaran berharga yang saya dapatkan adalah tentang pentingnya kita mendokumentasikan sesuatu. Dan tulisan ini berupaya mengingatkan dan menyemangati orang Banten untuk memiliki dokumentasi tentang Banten: tentang diri kita.
 
RAJA INFORMASI
Tentu kalimat “siapa yang menguasai informasi dia yang menguasai dunia” tidak asing di pikiran kita. Dan saya kira itu benar adanya. Dalam kasus kecil saya, saya merasa beruntung mendapatkan informasi beasiswa di Belanda sehingga dengan awalan informasi itu saya bisa kuliah di Universitas Leiden , Belanda. Karena merasa informasi memiliki kedudukan yang sangat penting saya merasa perlu mengembangkan jaringan informasi—salah satunya misalkan tentang kelanjutan pendidikan saya.

Lebih lanjut tentang informasi, negara-negara maju tidak merasa rugi berinvestasi dana besar untuk memiliki informasi. Kawan saya yang kuliah memperdalam ilmu tentang jamu menjelaskan bahwa negara-negara maju sering mengirim ilmuwan ke daerah-daerah pedalaman untuk mengetahui tumbuhan apa yang digunakan oleh mereka untuk pengobatan. Tumbuhan itu kemudian mereka ambil dan teliti. Hasil penelitian itu mereka produksi secara besar-besaran dan mereka beruntung sangat besar.

Masih tentang jamu, kawan saya ini juga mengatakan bahwa hak paten atas hasil penelitiannya selama kuliah di Leiden Belanda akan dimiliki oleh pemberi beasiswa. Jika sudah begitu, uang beasiswa yang diterima setiap bulan menjadi tidak sebanding dengan uang yang diperoleh oleh mereka dari hasil produksi jamu penemuan kawan saya itu. Padahal, tanaman yang diteliti kawan saya adalah tanaman obat yang biasa dipakai oleh masyarakat Indonesia .

Dengan contoh tersebut, pentingnya informasi atau dalam bahasa lain data menjadi semakin terang. Pada awal kedatangan saya ke Leiden , saya langsung mengecek berapa jumlah buku dengan judul atau subjudul “Banten” yang dimiliki perpustakaan Universitas Leiden dan perpustakaan KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies). Di perpustakaan Universitas Leiden, buku yang judul atau subjudulnya mengandung kata Banten berjumlah 121 buku. Sementara di perpustakaan KITLV jumlahnya lebih banyak lagi, yaitu 473 buku. Dari dua perpustakaan ini bisa jadi ada sejumlah buku yang dimiliki secara bersamaan. Namun demikian, pada saat yang sama, tentu akan lebih banyak buku lagi yang menjadikan Banten sebagai bagian dari pembahasan buku-buku tersebut.

Apabila kita menganggap 594 buku sebagai gambaran kasar, maka sudah lumayan banyak buku yang membicarakan kita, membicarakan Banten. Itu artinya orang lain sudah cukup banyak tahu tentang Banten. Tetapi keadaan tidak sebaliknya, kita tidak cukup tahu sejarah kita, apa yang sedang terjadi pada diri kita, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan kita. Perpustakaan yang seharusnya menjadi basis data sama sekali tidak mendapat perhatian dari pemerintah kita. Coba kita tengok perpustakaan di kota dan kabupaten, serta perpustakaan perguruan tinggi yang ada di Banten. Adakah satu perpustakaan yang memiliki buku yang bisa kita sebut sangat memadai?

Jika perpustakaan kita sambungkan ke persoalan janji gubernur, bupati, dan walikota, masalahnya semakin rumit. Contoh yang masih saya ingat betul adalah janji bupati Serang Taufik Nuriman. Menjelang pemilihan bupati Rumah Dunia dan Radar Banten mengadakan debat visi misi bupati Serang. Giliran Taufik Nuriman diskusi diselenggarakan pada 26 Maret 2005 di Rumah Dunia. Sebagaimana calon bupati lain, Taufik Nuriman juga menandatangani janjinya apabila menjadi menjadi bupati Serang akan membangun perpustakaan dan gedung kesenian Serang. Yang terjadi, Taufik Nuriman di Banten Raya Post pada 7 Agustus 2007 mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berjanji. Begitulah keadaannya. Janji yang ditulis saja dengan enteng diingkari, bagaimana lagi dengan janji-janji yang diucapkan seenaknya.
 
LELANG
Namun demikian, kita masih pantas beryukur memiliki orang-orang yang memikirkan kemajuan Banten. Untuk urusan buku, gagasan mendirikan Lumbung Banten merupakan gagasan yang seharusnya didukung sepenuhnya. Lumbung Banten berupaya mengumpulkan data-data tentang Banten, di antaranya buku-buku tentang Banten atau buku apa saja yang ditulis oleh orang Banten. Karena tidak memiliki gedung untuk menyimpan buku-buku yang sudah terkumpul, salah satu ruangan Rumah Dunia pada akhirnya digunakan untuk itu. Alangkah baiknya ke depan, setelah gubernuran pindah ke gedung baru, kantor gubernur digunakan untuk Lumbung Banten—selain juga untuk gedung Kesenian Banten dan Pusat Penelitian Banten.

Apa yang sudah dilakukan kawan-kawan di Banten dengan mengumpulkan sebisanya buku-buku tentang Banten, termasuk membukukan (menjilid) tulisan-tulisan yang ditulis pemuda-pemudi Banten, adalah langkah nyata. Tetapi tentu saja itu tidak cukup. Perlu usaha yang lebih besar lagi agar Lumbung Banten segera berisi. Langkah lain yang bisa dilakukan ialah dengan mengopi buku-buku tentang Banten yang ada di luar negeri. Di Universitas Leiden dan KITLV, sebagaimana saya sebutkan di atas, terdapat paling tidak 594 buku. Buku-buku itu bisa dikopi dan dikirim ke Banten.

Sebagai gambaran, ambil contoh buku Herinneringen van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat atau Kenang-kenangan dari Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat edisi bahasa Indonesianya. Buku setebal 460-an halaman ini dengan jelas menggambarkan bagaimana Banten yang dialami oleh Achman Djajadiningrat sejak tahun 1870-an hingga 1930-an: kehidupan pesantren, kehidupan para menak, tahayul yang berkembang di Banten, Gunung Krakatau meletus, penjajahan Belanda, pemerintahan Banten, dan seterusnya. Atau contoh lain buku Shaykh Nawawi of Banten: Texts, Authority, and the Gloss Tradition disertasi Alex Soesilo Wijoyo. Melalui buku setebal 438 ini Alex memaparkan kehidupan ulama asal Banten Shaykh Nawawi, karir ilmiahnya, dan kehausannya akan ilmu. Alex juga mendiskusikan beberapa karya terpilih Syekh Nawawi.

Sebagian dari 594 buku yang ada di perpustakaan Universitas Leiden dan KITLV tentu ada di Indonesia . Untuk buku-buku yang tidak ada di toko-toko buku Indonesia ada baiknya untuk dikopi dan dibawa ke Banten. Untuk memfotokopi dibutuhkan copy card, kartu foto kopi. Satu kartu foto kopi untuk mengopi 75 halaman seharga 3,5 euro atau 45.150 rupiah dengan kurs 12.900 rupiah per satu euro. Jadi untuk bisa mengopi buku Herinneringen van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat setebal 460 halaman dibutuhkan sekitar 10,5 euro atau 135.450 rupiah. Harga ini hampir dua kali lipat harga buku di Indonesia . Tetapi ini jauh lebih murah dibanding membeli buku dari toko di Belanda. Untuk bisa bahasa Belanda, saya ikut kursus dan membeli buku tipis 123 halaman plus dua keping CD seharga 50 euro, setara dengan 645.000 rupiah. Beruntungnya saya bertemu dengan seorang alumni Universitas Leiden, yang pernah menulis buku dan pernah menjadi tentara. Seminggu sekali di rumahnya saya belajar bahasa Belanda secara gratis.

Selain buku, ada juga foto-foto Banten zaman Belanda di perpustakaan KITLV yang bisa dikopi. Ada lebih dari 60 foto dan lukisan yang judulnya mengandung kata Banten atau Bantam. Di antara foto dan lukisan itu ada yang menggambarkan perjalanan Belanda pertama kali ke Indonesia (Banten), pementasan musik Baduy, penari muda Banten, dan perumahan penduduk Pulau Dua. Foto-foto dan lukisan-lukisan tersebut bisa dicetak ulang dengan biaya beragam tergantung ukuran. Ukuran 13×18 cm:  10, 18×24 cm:   12, 20×30 cm:   15, 30×40 cm:   25, dan 40×50 cm:  35.
Untuk mendapatkan kopian buku-buku, foto-foto, dan lukisan-lukisan tentang Banten, dengan gambaran biaya seperti yang saya paparkan, saya kira tidak terlalu mahal apabila kita menganggap ini sebagai investasi, apabila ini dianggap sebagai upaya mengenali diri sendiri. Gaji gubernur dan para bupati dan walikota saya kira jauh lebih besar. Apalagi mereka rutin mendapatkan uang tiap bulan. Kalaupun gubernur dan para walikota dan bupati tidak mau ikutan, warga Banten masih bisa patungan. Masing-masing orang seribu rupiah juga sudah cukup. ***
 
*) Penulis relawan Rumah Dunia, alumni IAIN Banten, mahasiswa Universitas Leiden. E-mail: ibnuaviciena@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: