ANYER, ALTERNATIF TEMPAT BERMAIN ORANG JAKARTA

anyer2.jpgOleh MH Samsul Hadi – KOMPAS 2 Maret 2005

Desiran ombak bersilih ke pantai

disambut alunan nyiur nan melambai

rembulan megah di atas mahligai

tersenyum melihat kita berdua….

UNTAIAN kata-kata di atas adalah deskripsi keindahan alam Pantai Anyer yang dilukiskan penyanyi negeri jiran, Sheila Majid, dalam lagu Antara Anyer dan Jakarta. Lebih dari satu dasawarsa setelah lagu ciptaan Odie Agam ngetop akhir tahun 1980-an, keindahan itu masih menyatu di Anyer.

SUASANA malam di awal Februari 2005 itu, saat acara pembukaan Media Fun Tour 2005 di Hotel Mambruk, memang tak seindah penggambaran lagu di atas. Rembulan tidak menampakkan diri, Anyer pun berpayung langit gelap gulita. Segelap kehidupan pariwisata di Anyer pascatsunami Aceh.

mercusuar.jpgNamun, hal itu tak mengurangi keindahan malam di Anyer. Ombak kecil berdebur di sana-sini. Di kejauhan, lampu- lampu petromaks nelayan yang mencari ikan bekerlapan di tengah lautan bak kunang-kunang malam. Angin silir pantai bertiup, menabuh dedaunan pohon-pohon, menimbulkan suara gemerusuk.

Deburan ombak, siliran angin, dan gemerusuk daun bagaikan-meminjam ungkapan Iwan Fals-suara alam yang menghangatkan jiwa. Terlepas dari potensi alam yang ada, awal tahun 2005 ini pariwisata Anyer dilanda kegelapan, seperti gelapnya malam di awal Februari itu.

Meski demikian, kawasan Anyer masih menjadi alternatif “taman bermain” orang-orang Jakarta yang ingin menghirup udara segar. Untuk mencari makan malam di Puncak, Jawa Barat, sudah menjadi hal biasa bagi orang Jakarta. Biasanya setelah ke Puncak, mereka melanjutkan perjalanan ke Bandung atau Sukabumi untuk mencari suasana “lain” dari kepengapan ibu kota RI.

Mengutip data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten, hasil survei secara acak terhadap sembilan hotel di sepanjang kawasan Merak, Anyer, hingga Carita per tanggal 16 Januari 2005 menunjukkan bahwa tingkat hunian hotel di kawasan tersebut rata-rata hanya 11,5 persen.

Bahkan, pada pekan ketiga bulan Januari itu, tingkat hunian sejumlah hotel, seperti Sanghyang Indah Resort dan Nuansa Bali, nol persen. Padahal, masih menurut survei Disbudpar Banten, kedua hotel itu masing-masing berkapasitas 166 dan memiliki 116 kamar.

“Kami tidak mau menuduh, ini gara-gara tsunami. We have to correct ourselves. Kami positive thinking dan tak lagi beranggapan bahwa wisata sepi karena tsunami,” ungkap Ashok Kumar, Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Serang, di sela-sela acara Media Tour Fun 2005.

Sepinya kunjungan wisata ke Anyer pascatsunami juga memukul usaha rakyat kecil setempat yang bergantung pada sektor pariwisata, seperti pedagang kaki lima, pemilik rumah atau kamar sewa, tempat mandi atau kamar bilas, tukang pijit, jasa penyewaan tikar, dan penyewaan perahu nelayan.

“Pada malam Tahun Baru 2004, kami mendapat penghasilan Rp 800.000 hanya dari menyewakan kamar mandi. Tahun 2005 ini, cuma dapat Rp 6.000. Padahal, kami sudah mengeluarkan modal untuk memperbaiki kamar mandi dengan menambahkan shower,” ungkap Ningsih (25), pemilik saung di pinggir jalan, Kampung Jambangan, Desa Bandulu, Anyer.

BERTOLAK dari keterpurukan pada awal tahun 2005 ini, berbagai upaya ditempuh para pengelola industri pariwisata di Anyer untuk berbenah diri. Langkah tersebut diawali dengan mengundang Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) di Hotel Sol Elite Marbella pada 17 Januari 2005 untuk meyakinkan bahwa Anyer dan kawasan pantai barat Banten relatif aman dari gempa bumi dan tsunami.

Upaya berikutnya adalah mengundang wartawan untuk memperkenalkan potensi wisata di kawasan tersebut, yang dikemas dalam acara Media Tour Fun 2005 selama dua hari. Menurut Ashok Kumar, acara tersebut digelar untuk mencanangkan tekad bahwa potensi wisata di Anyer tidak hanya dijual pada akhir pekan, tetapi juga pada hari-hari biasa (week days).

“Pada akhir Desember lalu, angka kunjungan wisata mulai menurun, tetapi mulai Februari ini mulai menaik lagi. Kami menjual tujuan wisata, bukan menjual hotel,” kata Ashok. Dengan acara itu, PHRI Cabang Serang berusaha meyakinkan variatifnya obyek tujuan wisata di Anyer dan Cinangka.

Mereka, misalnya, memperlihatkan kesenian tradisional dalam pesta makan malam di Hotel Mambruk; beberapa hiburan malam, seperti karaoke dan disko, di Hotel Nuansa Bali; serta fasilitas spa di Taman Sari Heritage Spa, Sanghyang Indah Resort, yang diklaim pengelolanya sebagai spa pertama di Banten.

Menurut catatan, selama mengikuti acara yang juga dihadiri puluhan wartawan itu, upaya promosi tersebut lebih cenderung memamerkan hotel- hotel dengan segala fasilitasnya ketimbang memperkenalkan potensi lain di luar wisata pantai, khazanah kehidupan sosial dan budaya masyarakat, serta warisan sejarah yang terpendam di Anyer.

Peserta, misalnya, tak diperlihatkan jejak-jejak sejarah yang bisa memperkaya potensi wisata pantai di Anyer, seperti Menara Mercu Suar peninggalan Raja Willem III yang dibangun tahun 1885. Atau, keragaman masyarakat pesisir di Kampung Cikoneng, komunitas warga Lampung yang terbentuk sejak Kesultanan Maulana Hasanuddin (1552-1570).

Tanpa variasi dan sentuhan yang inovatif, wisata Pantai Anyer lambat laun akan menimbulkan kejenuhan. Untunglah, mulai pertengahan tahun 2004 telah berdiri Lembah Hijau Bandulu, area berbukit seluas tujuh hektar yang disulap menjadi arena petualang di alam bebas dengan berbagai alat ketangkasan.

“Dengan variasi ini, Anyer bukan hanya dikenal dengan pantainya, pasir putih, atau sunset-nya,” kata Fazar Maulana, Senior Manajer Pondok Layung Resort, yang mengelola Lembah Hijau Bandulu. Sekalipun demikian, kesan Anyer sebagai obyek wisata yang hanya menjual pantai masih melekat di benak kaum wisatawan.

Beberapa pengelola biro perjalanan dan travel mengemukakan, rendahnya minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke Anyer disebabkan obyek wisata di kawasan tersebut yang “pantai melulu”.

“Wisatawan lebih memilih Bali atau Yogyakarta, baru setelah itu Lombok untuk berlibur. Orang (Banten) sini saja memilih berlibur keluar dari Banten,” ujar Anton Juniko, Senior Ticketing pada biro travel PT Bayu Buana Tbk, Cilegon.

Kenyataan itu disadari sepenuhnya oleh pengelola industri pariwisata di Anyer. “Memang berbeda dengan Bali. Everything in Bali is tourism. Di sini tidak fokus, ada industri, ada pertanian, dan sebagainya,” kata Ashok yang juga mengakui masih rendahnya nilai jual dan daya pikat pariwisata di Banten, termasuk Anyer.

Anyer dulu berbeda dengan Anyer sekarang. Begitulah paparan Adhy Asmara DR dalam buku Banten, Pesona Wisata Zamrud Katulistiwa. Ia menulis, dulunya sepanjang Pantai Anyer merupakan pantai yang landai. Separuh pantai berdasar hamparan karang, separuhnya lagi berdasar pasir.

“Semula sepanjang kawasan wisata Anyer ini dirimbuni oleh ratusan batang kelapa yang berjajar sepanjang bibir pantai, tetapi kini telah berganti dengan jajaran bangunan-bangunan bertembok beton,” tulisnya lagi.

Jika kita menyusuri sepanjang kawasan pantai barat Banten, mulai Anyer hingga Carita, tampak jelas bahwa seluruh kawasan pantai itu telah terpagari sehingga area tersebut seperti tertutup bagi publik. Tentu saja, hal itu dikecualikan bagi mereka yang mau dan sanggup membayar. (MH SAMSUL HADI)

*) Foto 1: member lycos.nl

*) Foto 2: mercusuar, www.pbase.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: