SEREN TAUN: ANTARA TRADISI, WISATA, DAN ARUS BUDAYA LUAR

serentahun.jpgOleh Dadan Hudaya – Wartawan Banten Raya Post

Dari Upacara Seren Taun di Kasepuhan Cisungsang, Kabupaten Lebak

Perjalanan panjang selama 5 jam dari pusat Provinsi Banten untuk Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Sabtu (30/6) lalu, terasa cukup melelahkan. Namun udara yang sejuk dan dingin segera mengusir rasa lelah itu. Di wilayah masyarakat adat Cisungsang—kerap disebut juga Banten Kidul—upacara Seren Taun 2007 petang itu sedang digelar.

Seren Taun atau perayaan panen yang dilakukan masyarakat Kasepuhan Cisungsang adalah tradisi. Warga kasepuhan (secara harafiah berarti tetua) secara turun temurun merupakan perwujudan rasa syukur atas hasil panen padi yang diberikan oleh Sang Khalik. Prosesi yang dilakukan selama sepekan bukan hanya melibatkan warga kasepuhan, namun juga masyarakat umum.

Abah Usep Suyatma SR, Olot Kasepuhan Cisungsang, menuturkan bahwa ada beberapa proses ritual yang dilakukan sebelum Seren Taun. Pertama yaitu prosesi Jatnika Nibakeun Sri ka Bumi. Prosesi ini dilakukan di saat menyebar benih hingga menuai benih selama 45-50 hari. Diawali prosesi doa di kediaman kasepuhan dilanjutkan dengan makan bersama hingga hiburan kesenian.

“Ada dogdog lojor atau angklung buhun,” ungkap Abah. Selanjutnya prosesi yang dilakukan adalah Jatnika Ngamitkeun Sri ti Bumi, Ngunjal, Rasul Pare di Leuit, dan terakhir Seren Taun.

Pada saat prosesi ini, lanjut Abah, semua warga kasepuhan harus hadir. Ini sebagai penghormatan terhadap karuhun (leluhur). “Kalau tidak datang juga tidak apa-apa. Hanya ya, ada kekurangan saja,” tukas Abah.

Padi, lanjutnya, sangat diagungkan oleh masyarakat Cisungsang. Sehingga untuk menanamnya membutuhkan ritual agar berhasil. “Padi adalah simbol kehidupan. Tanpa padi, tentu saja kita tidak bisa makan. Karena itu, masyarakat di sini benar-benar memuliakannya,” tuturnya.

Minggu (1/7), prosesi Seren Taun dilakukan. Waktu tersebut tidak sembarang ditetapkan namun ditentukan oleh Kasepuhan. Biasanya akan berbeda dengan tahun lalu, yaitu lebih maju 10 hari. Saat itu, alun-alun dipenuhi masyarakat adat dan umum. Khusus bagi rendangan (keturunan kasepuhan), mereka duduk menyaksikan upacara bersama dengan Kasepuhan Abah Usep dan Wakil Gubernur Banten HM Masduki. Satu persatu prosesi dilakukan hingga akhirnya memasukkan padi ke dalam leuit (lumbung padi).

Acara selanjutnya yaitu berdialog antara warga kasepuhan dengan pemerintah. Di sana terungkap harapan dan keinginan warga.

Abah Usep yang memulai pembicaraan langsung berharap kepada pemerintah untuk lebih memerhatikan wilayahnya. “Kami ingin hutan dijaga. Ada hutan maka ada air untuk sawah kami,” pinta Abah yang masih berusia 37 tahun ini.

Abah pun meminta agar pelayanan kesehatan dan pendidikan bisa lebih mudah dijangkau masyarakat. Sehingga, warga kasepuhan bisa sehat dan mampu mencapai tingkat pendidikan yang tinggi. “Memang warga kami ada yang sudah sarjana. Tetapi, kami ingin lebih banyak lagi,” tuturnya dalam bahasa Sunda.

Dalam kesempatan itu, Masduki menanggapinya dengan berjanji akan memperhatikan apa yang diminta warga.

Arus Budaya
Kasepuhan Cisungsang jangan dibayangkan seperti halnya Suku Baduy. Karena keadaannya sudah lebih modern. Teknologi informasi sudah masuk dan masyarakat adat pun mampu memanfaatkannya. Televisi, radio, handphone, sudah menjadi keseharian bagi sebagian warga.

Untuk seni, jangan juga dibayangkan bahwa hanya alat tradisional saja yang bisa dimainkan oleh warga kasepuhan. Dangdut pun mampu dilantunkan. Budaya sawer yang mungkin dikenal hanya ada di kota atau pinggiran kota, kini tidak berbeda dengan di Cisungsang. Warga berbaur, saweran, dan berjoget. “Kami tidak bisa membendung itu semua. Biarlah masyarakat menikmatinya. Tapi satu yang tidak akan kami biarkan, yaitu minuman keras dan terlebih lagi narkoba,” tandas Abah Usep.

Budaya lokal, imbuhnya, hanya akan dipertahankan jika masyarakat benar-benar memegang adat secara kuat. Dan meyakini apa yang menjadi risiko jika melakukan pelanggaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: