NOOR SYAMSUDDIN CHAESY: BENAHI KAMPUNG DENGAN JURNALISTIK DAN SASTRA

chaesy.jpgOleh Aji Setiakarya

Meski sudah bertahun-tahun lama di “lembur” asing, tidak berarti menghilangkan ingatan Noor Syamsuddin Chaey kepada tanah kampung halamannya, Banten. Berbicara dihadapan para peserta Klub Diskusi Rumah Dunia (KDRD), Syam begitu kebanyakan orang memanggilnya, masih tegas mengingat kampungnya, Banten. Bahkan berkali-kali ia menunjukan dan melogatkan bahasa Sunda Banten, yang memang asli kampung yang terkenal dengan Jawara ini.

Noor Syamsuddin memang lahir di pusat kota Serang. Sayang, lelaki yang kini menjadi Pemimpin Umum koran Jurnal Nasional, Jakarta, ini tidak mau menyebutkan secara jelas dimana ia lahir. Termasuk siapa yang melahirkan beliau. “Saya tidak suka menjual-jual nama Bapak saya, hanya karena status sosial,” kata lelaki yang pernah menjabat Direktur TPI ini. Tapi para peserta yang hadir pada acara KDRD Sabtu (30/6) siang itu tetap semangat dan penuh hikmat mendengarkan obrolan Pak Syam ini. “Dia anak Achmad Chotib, residen pertama di Banten,” bisik salah satu peserta, yang penuh konsentrasi mendengarkan paparan Pak Syam.

banten_5.jpgMemang dari pengetahuan dan wawasannya tentang Kebantenan yang dimilikinya, Pak Syam layak untuk mendapatkan label anak penggede Banten. Bagaimana tidak? Ia seperti pakar sejarah yang tahu persis perkembangan dan dinamika Banten. Dari mulai kemiskinan, kebodohan, pendidikan, pertumbuhan ekonomi, sampai dengan peta politik yang ada di Banten, juga kiprah para “jawara” yang sudah salah kaprah, ia paham betul. Ia mampu menuturkannya bak petualang yang pandai bercerita kepada kawan-kawannya. Atau seperti bank informasi alias perpustakaan berjalan. Bagi saya pribadi, ini adalah diskusi yang paling baik yang pernah diadakan di Rumah Dunia.

Pada KDRD yang berjudul “Banten Bangkit; Membentuk Generasi Cerdas, Kreatif, Kritis, dan Inovatif dengan Jurnalistik dan Sastra Menuju Banten Nagari Rahayu Jayasantika”, Pak Syam berusaha mengurai benang kusut yang ada di Banten. Pertama-pertama, ia mengawalinya dengan menjelaskan sejarah dan potensi ada di Banten. Menurutnya, Banten lahir dengan keluhuran karya-karya sastra. Itu terbukti dengan mantra-mantra yang muncul di tengah para kaum istana di Banten. Pak Syam, yang fasih melafalkan mantra-mantra Banten itu bercerita bahwa, ia sangat sedih melihat kondisi yang ada di Banten. Masyarakat Banten tak ubahnya seperti Banten sebelum menjadi provinsi. Di tengah-tengah wilayah yang tidak jauh dari pusat kota, masih terdapat masyarakat yang kekurangan gizi, putus sekolah dan lain sebagainya. “Ironis,” kata Pak Syam dengan wajah mesem.

Lantaran anak Banten asli, pak Syam merasa sedih dengan kondisi yang melanda halaman kampungnya saat ini. Kejayaan Banten yang pernah ditorehkan oleh para sultan pada masa lalu, kini tinggal kenangan saja. Pemerintah tidak bisa diandalkan. Karena mereka sibuk dengan dirinya sendiri, mengurusi anggaran dan mengurusi administrasi. Sementara rakyat kelaparan, tidak diperhatikan. Padahal letak geografis antara daerah ibu kota negara dengan Banten tidak begitu jauh. Lalu kenapa Banten tertinggal?

LOCAL WISDOM
Menurut lelaki yang pernah mengenyam pendidikan di Sorbone University Prancis ini, keadaan yang tengah melanda kampungnya saat ini, karena masyarakat telah meninggalkan nilai-nilai kelokalan yang ada di Banten sendiri. Orang-orang sudah enggan menggunakan yang lokal.

Lantas, bagaimana dengan jurnalistik dan sastra? Kata Pak Syam, Banten memiliki nilai sejarah yang tinggi dengan sastrai. “Banten terkenal dengan mantra-mantara itu, yang sebenarnya itu adalah karya sastra.”

Kata lelaki yang menjadi dosen di Universitas Kebangsaan Malaysia ini, “Kalau Banten mau maju, maka pengetahuan akan kesusastraan masyarakat harus diperhatikan. Karena sastra bisa memperhalus budi.”

Pak Syam mengeluarkan pemikirannya untuk membangkitkan Banten dari keterpurukan. Pertama adalah Muhasabah, dimana seluruh lapisan masyarakat dikumpulkan untuk merumuskan apa yang diinginkan oleh warga Banten. “Profesor harus ngomong, kiayi harus berbicara. Ahli hukum, ekonom, tukang becak, petani, dan sebagainya harus merumuskan visi dan misinya dalam satu meja. “Kita harus membuat grand design,” katanya berapi-api. Para stakeholder itu harus berkumpul dan meracanakan scenario planning. Hal itu agar pemerintah tidak ngarang-ngarang atau asal-asalan membuat program atau rencana strategis pembangunan.

Dialog scenario planning harus kaffah dan serius. “Misalnya jadwalkan waktu empat hari berturut-turut di sebuah hotel. Para peserta dialog tidak boleh keluar masuk sebelum acara selesai. Harus dikunci, mereka menumpahkan isi kepalanya, “ kata Syam. Yang terjadi saat ini pemerintah daerah, punya visi yang setengah-tengah. Lima tahun ganti pemimpin, visinya ganti lagi. Ini, yang menurut Syam memprihatinkan.

Kedua adalah Mahfudoh. Sumber daya manusia yang mempupuni. Untuk menciptakannya, masyarakat Banten harus belajar. Mereka harus pergi ke luar, sejauh-jaunya untuk belajar dan kemudian kembali lagi untuk membangun daerahnya. Syam menuturkan bahwa sebenarnya Banten memiliki ajaran hidup yang kukuh terhadap pola pembelajaran. “Orang-orang Banten itu punya falsafah Hidup Kudu utama,” kata lelaki yang berkacamata ini. Kudu utama adalah local wisdom. Kudu utama memiliki maksud, setiap orang harus menjalankan keutamaan, salah satunya adalah pendidikan.

PULAGN KAMPUNG
Nah, pemikiran Syamsudin demikian bagus, sehingga para audiens sepakat jika orang seperti Syam harus pulang kampung membangun kampungnya, Banten ini. Tapi Syam punya pendirian, bukan berarti diluar sana diam, tak melakukan apa-apa untuk tanah halamannya. Justru dari luar sanalah, dia bisa melakukan banyak hal. Misalnya, ia mendirikan Banten Empowerment Community Centre, yang bermarkas di Malaysia. “Saya mengumpulkan mahasiswa-mahasiwa Banten yang kuliah di Malaysia. Markasnya di Selangor.”

Dengan lembaga ini, bersama orang-orang Banten lainnya menggalang kekuatan materil. Dan hasil semua itu, setiap bulan lembaga ini mengucurkan dana tidak kurang Rp. 500.000.000,- kepada masyarakat Banten yang dinilai kurang mampu di pedesaan.

*) Penulis adalah relawan Rumah Dunia, mahasiswa FISIP UNTIETA Serang dan Redaksi Pelaksana www.rumahdunia.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: