KOMUNITAS DAN GERAKAN KESUSASTRAAN DI BANTEN

komunitasmu-2.jpgOleh Firman VenayaksaKomunitas menjadi sebuah wahana yang biasa dalam dunia kesusastraan. Ia bisa tumbuh dan berkembang dengan pesat, ada juga yang baru berdiri lantas mati. Yang lebih parah adalah komunitas tersebut hidup segan mati tak mau, alias mati suri dan kambuhan. Terlepas dari persoalan tersebut, komunitas memiliki fungsi yang amat menarik untuk didiskusikan. Kelahiran komunitas memiliki andil yang cukup berarti bagi perkembangan sastra itu sendiri. Jika kita menilik sejarah, “humanisme universal” yang diusung Manifes Kebudayaan dan “realisme sosialis” yang diusung Lekra ternyata tak melulu berbicara dalam konteks faham yang dianut. Eksistensi faham tersebut ternyata dilatarbelakangi oleh sebuah “komunitas”. Dengan demikian, komunitas tak hanya bicara persoalan tempat mengasah estetika; di sini lahir juga gagasan ideologis yang tak bisa dihindari.

Di Banten, ranah kepenulisan (sastra) memang masih belum banyak diminati. Dengan bahasa banyolan, Toto ST Radik mengatakan bahwa lowongan pekerjaan di kantor dan perusahaan begitu banyak dinanti orang, tapi lowongan pekerjaan menulis tak pernah dilirik. Padahal menulis adalah bagian yang tak bisa dihindarkan jika generasi mendatang ingin “berbahagia.”. Terlepas dari pernyataan sang pangeran Banten itu, beberapa bulan ini komunitas kesusastraan di Banten mulai bermekaran.

Di Rumah Dunia, selain diajarkan jurnalistik dan skenario film, sastra adalah bagian tak terpisahkan dari kelas menulis yang sekarang menginjak angkatan ke-9. Gola Gong sebagai tutor mereka dengan sabar mentransfer ilmunya, terutama dalam ranah prosa fiksi. Kelas menulis Angkatan ke-9 yang berjumlah 40 orang ini cukup beruntung karena dalam permulaan pembelajaran sudah dijambangi Arswendo Atmowiloto, seorang penulis yang cukup berwibawa, dan Naning Pranoto seorang penulis akademik yang sudah tak asing lagi dalam ruang lingkup tulisan ilmiah. Peserta dengan berlatar belakang yang cukup variatif seperti mahasiswa, wiraswasta bahkan tukang roti, ternyata tak menjadi kendala bagi Gola Gong. Ia dengan santai mengajarkan mereka teknik-teknik menulis. Dari sinilah lahir sejumlah buku seperti “Kacamata Sidik”, “Padi Memerah”, dll. Beberapa orang yang berasal dari kelas ini bahkan sukses membukukan novelnya seperti Qizink la Aziva (Gerimis Terakhir, Mizan), Ibnu Adam Aviciena (Mana Bidadari Untukku, Beranda) dan Endang Rukmana yang sudah menerbitkan empat novelnya oleh Gagas Media.

Forum Kesenian Banten, Sanggar Sastra Serang dan Kubah Budaya membuat sebuah ajang yang memfokuskan pada puisi dengan nama Bengkel Menulis Puisi. Dengan anggota 20 orang, mereka dengan intens saling berdiskusi. Apa lagi dengan akan didatangkannya para penyair seperti Zen Hae, Ahda Imran dan Ahmadun Yosi Herfanda jelas akan menambah amunisi yang cukup berarti. Untirta sebagai kampus yang mencetak para akademisi pun tak mau kalah pamor. Pada awal bulan April, dibentuklah Bengkel Menulis Sastra (Belistra) yang diperuntukkan bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan tutor dari dosen-dosen sastra, seperti Wan Anwar dan Herwan FR(Kelas Puisi), Firman Venayaksa (Kelas Cerpen dan Novel), Nandang Aradea (Kelas Drama), Arip Senjaya dan Ahmad S. Rumi (Kelas Esai). Dengan jumlah peserta sekitar 80 orang dan latar belakang sastra yang tak disangsikan dari para tutor, agaknya dosen-dosen tersebut malu jika tak ada satupun dari peserta yang serius mendalami sastra.

Beberapa bulan sebelumnya, Forum Lingkar Pena Serang malah lebih dulu membuat Training Menulis (Tralis) yang diikuti sekitar 30 orang. Di Tangerang, kita mengenal Komunitas Kebon Nanas dan Komunitas Sastra Indonesia yang digawangi Wowok Hesti Prabowo dan telah banyak melahirkan sastrawan handal. Dan pada akhir bulan April, SMU Muhamadiyah Serang bekerjasama dengan majalah sastra Horison meresmikan “Sanggar Sastra Siswa Indonesia”. Kegiatan menulis yang direncanakan selama satu tahun ini menambah kegairahan tersendiri bagi kesusastraan di Banten.

Jika kita mengamati kehadiran komunitas-komunitas di atas, agaknya kita tak akan lagi kekurangan stok para penulis sastra. Tunas-tunas sastra mulai bermekaran di taman Banten. Semoga saja komunitas-komunitas tersebut lahir bukan lantaran trend semata. Sastra harus disikapi pula sebagai alternatif dalam memandang kehidupan untuk melawan kejahilan berpikir dan bertindak.

Tanah Air, 2007

*) Presiden Rumah Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: