Ugas: MENGANGKAT ANAK JALANAN BERMARTABAT

ugas.jpgLelaki bernama Ahmad Lugas Kusnadi ini biasa dipanggil Ugas. Dia lahir di tanah Rangkasbitung Lebak, 18 Oktober 1972. Pada pembukaan ”Keranda Merah Putih”, 15 Agustus 2007, Ugas mendapat ”Anugrah Rumah Dunia”. Ugas terpilih dari 5 kandidat, karena dia memiiki dedikasi dan komitmen kepada pekerjaannya.

Dengan segala keterbatasan dana dan akses serta koneksi yang dimilikinya, dia terus mengabdikan hidupnya di KPJ; dia membina anak-anak jalanan dalam hal bermusik. Hadiah tabungan Syar-e dari Bank Muamalat senilai Rp 1.000.000,- dan uang kadeudeuh dari Disbudpar Banten juga Rp. 1.000.000,- Ugas adalah salah satu pendiri Komunitas Pemusik Jalanan (KPJ) Rangkasbitung sebelas tahun lalu. Pada perayaan Isra Mi’raj 11 Agust 2007 lalu, persis malam Minggu, markas KPJ diserang oleh oknum tentara. ”Mereka mencari pelaku yang mengeroyok tmannya sesama tentara. Mereka sekitar 15 orang, mengendarai motor trail. Mereka mengaku dari tentara. Mereka merusak sekretaiat KPJ dan memukuli kami,” cerita Ugas. Uang hadiah dari ”Anugrah Rumah Dunia” akan dipakai untuk memperbaiki sekretariat dan alat-alat yang rusak.

Sejak awal bediri sampai saat ini, Ugas masih menjadi ketua KPJ Rangkasbitung. Lelaki yang lahir dari perut ibu bernama Khuraisin ini besar di Rangkasbitung. Ugas besar di Rangkasbitung. Setelah menyelesaikan Sekolah Dasar di SD Warunggunung ia melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya di MTs Swasta Warunggunung. Setelah itu Ugas melanjutk sekolahnya di SMA PGRI Rangkasbitung.

Ugas memang tidak bisa melanjutkan studinya ke jenjang sarjana. Tapi tidak berarti ia miskin perhatiah terhadap lingkungannya. Bersama teman-teman KPJ lainnya, Ugas membina sekitar 30 orang. Mereka adalah yang biasa menggelandang menjadi sik di sekitar Rangkasbitung. Usia mereka variatif. Yang paling kecil adalah 9 tahun sampai dengan 14 tahun. Beberapa bulan yang lalu ke-30 orang itu mendapatkan ijazah paket A dan paket B dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak.

Menurut Ugas setiap orang pasti memiliki keinginan untuk sukses. Tidak ada yang ingin menjadi anak jalanan. Berpanas-panasan dengan terik matahari yang menyengat dan meminta receh di tengah kerumunan kendaraan. Tapi kadang keadaan yang membuat mereka harus begitu. Ugas mengaku, sebenarnya anak-anak jalanan banyak sekali. Tapi dia tidak kuasa untuk merekrut mereka di markas KPJ yang hanya gubug, terbuat dari bilik dan welit.

Ugas, sekarang sudah pasrah. Disanalah jalan hidup dia. Dengan KPJ-nya dia bisa melakukan untuk orang banyak. Dengan komunitas yang dia bangun itu sekarang anak-anak punya wadah. Dan kini mereka tidak lagi hanya punya keahlian bermusik. Diantara mereka ada yang sudah memiliki kemampuan yang lain. Misalnya ada yang bisa melukis, mengajar teater, menari, dan ada pula yang menjadi wartawan. Lelaki beristrikan Maria (25) ini tidak punya harapan muluk-muluk dengan komunitasnya itu. Dia ingin tidak ada lagi anak jalanan, paling tidak di Rangkasbitung. Atau dia ingin mengangkat derajat anak-anak jalanan. ”Paling tidak mereka bisa hidup seperti orang-orang kebanyakan, ” ungkap bapak dari Ahmad Ibran Arfitur ini. (Aji Setiakarya, Kedung Kaban dan Feri Setiawan, Sodik, Langlang Rhandawa, Muhzen Den, Royadi dan Alwi Seruling)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: