NANDUR LUMBUNG BANTEN

lumbung-bicaranih2.jpgPeluncuran Perdana, Senin, 8 Oktober 2007, Pukul 15.30.
Menu: Peluncuran 10 buku para penulis Banten
Menu tambahan: Buka Puasa bersama

Sekitar 8 Oktober 1525, Maulana Hasanudin bertandan ke Banten Girang. Hasanudin mengajak Pucuk Umun masuk Islam. Tapi Pucuk Umun menolak. Lalu mereka bertaruh ayam; dengan taruhan siapa yang kalah harus menyerah. Pucuk Umu kalah dan memilih mengasingkan diri ke tanah Kanekes, Baduy sekarang.

 Sedangkan Hasanudin secara resmi mengumumkan dirinya sebgai penguasa baru di tatar Banten dan membangun ibukota Kesultanan Banten di Bnten Lama, 10 km arah utara Serang sekarang. Kota Bnten lama pada abad 16 (Sultan ageng Tirayasa) menjelma menjadi bandar tersibuk dan persinggahan para saudgar mancanegara. Sayang, kini kota tua itu merana dan sepi sendiri. Pelabuhan Karanghantu dangkal, kumuh, jorok, dan menjadi potret buram kemisinan di Banten. Keraton Kesultanan Banten hanya menjai “borok” tak terawat atau “bisul” di Banten, yang tidak pernha disembuhkan.

LOKAL
Maka “Nandur Lumbung Banten adalah upaya membgun kembali peradaban Banten yang pernah jaya 6 abad silam,” kata Gola Gong, komandan Lumbung Banten. “Lewat jurnalistik, sastra, film, rupa, dan teater!” tegasnya.

Nandur pertama di Lumbung Banten adalah dengan memakimalkan kemampuan para penulis lokal (local genuine). Rencananya sekitar 10 buku diluncurkan. Penrebitnya “Lumbung Banten”. Masih sederhana. Sejak sebulan ini kami jungkir balik mengumpulkan tulisan yang berserak, mengetik ulang, melay-out dengan format ms-wordd, set-up marjin kiri-kanan, rubah dari portrait ke landscape, dan 2 kolom. Bahan-bahan itu kami bawa ke warnet; print out, kami guntingin, tempel di kertas ukuran A4 dilipat dua, diberi gambar oleh Indra kesumah, foto copy sebanyak 7 eksemplar. Jadilah (bakal) buku mungil dan menggetarkan. Seolah kembali ke zaman perjuangan, padahal sudah ada progtram adobe page maker. Memang, sejak Ibnu ke Belanda dan Rimba mondok di pesantren Inggris, Pare, Kediri, tugas lay-outer jadi “pincang”. Aji, Deden, dan Langlang belum menguasai program itu. Tidak apa. Kendala teknologi, tetap tidak membatasi kreativitas. Say juga jadi ikut me-lay out dengan format ms word; ini nostalgia seperti sedang megngarap jurnal Lingkaran (1996), Meridian (2000), dan tabloid Banten Pos (1993).

Kesepuluh buku itu adalah:
1. Konvensi dan Konfeksi – Gola Gong
2. Keranda Merah Putih – Gola Gong
3. Bicaralah Tanah – Nandang Aradea
4. Surosowan burak – Toto ST Radik
5. Coretan Politik – Aji Setiakarya
6. Jelangkung – Langlang Randhawa
7. Gema Ramadhan – Tm wartawan Radar Banten
8. Mazhab Pakupatan
9. Merdeka di Negeri Jawara – Firman Venayaksa
10. Lima Naskah TEater – Tias Tatanka
11. Aku Berlabuh di Banten – Mushadieq Ali

12. Mall dan Ubrug – Halim HD

13. Rumah Dunia Riwayatmu 1 – GG/TT
14. Rumah Dunia Riwayatmu 2 – GG/TT

Juga film-film buatan kelas film Rumah Dunia dan anak-anak Gong Media Cakrawala seperti: Jejak Multatulli, Padi Memerah, Festival Film Banten, Piknik ke Monas, belok Kiri [dilarang] Langsung.

Terkesan, memang, yang menandur adalah para penulis dari Rumah dunia. Sebetulnya tidak dimaksudkan begitu. Ini adalah gerakan provokasi. Kata Hasan Alaydrus, tokoh masyarakat Banten, “Action first, talk after!” Ya, kami bekerja dulu, bicara kemudian. Kami mencontohkan dulu, lalu ramai-ramai kita menandur bersama. Para penulis (dosen) Untirta Serang, kata Firman Venayaksa, dosen Untirta dan Presiden Rumah Dunia, siap menyumbangkan tulisan-tulisannya yang pernah dipublikasikan di Radar Banten. Sekarang saja, sumbangan-sumbangan “benda pusaka” Banten sudah memenuhi LUMBUNG BANTEN. Seminggu lalu, Humas Pemprov Banten menyumbang klipingan berita-berita tentagn kinerja Pemprov Banten di koran lokal dan nasional serta buku-buku tentang Bnten terbitan humas Banten. Juga Penrbit Suhud Media Promo dan Abdul Malik menyumbang karya-karyanya.

Menurut Aji Setiakaya, kaki tangan Gong di LUMBUNG BANTEN, “Saya optimis, setelah nandur LUMBUNG BANTEN, para penulis lokal akan bergairah menerbitkan buku berisi tulisan sendiri secara indi label,” katnya tertawa. “Intinya, jangan mimpi yang besar dulu, ingin langsung diterbitkan oleh penerbit besar. Dimulai dari yang kecil dululah. Berlatih dulu membuat buku. Rasakan sensasinya. Itu ibarat bensin di motor; tanpa membuat buku secara indi label, mutahil kita akan produktif menulis!”

Buku-buku kolksi LUMBUNG BANTEN diharapkan bisa memerkaya LUMBUNG BANTEN dan menjadi tempat penyimpanan “benda pusaka” Banten. Jika selama ini benda pusaka Bnten lebih kental dengan golok, pelet, jawara, dan debus, maka kali ini adalah buku-buku sastra, naskah teater, lukisan, dan film karya wong Banten . Kelak 50 thaun ke depan anak-cuku kami di Banen bisa memanennya jika hendak melakukan kegiatan ilmu pengetahuan.

Semoga itu dimudahkan oleh allah SWT.
Mohon doa restu dari semua.
Hidup ilmu pengetahuan.

Tetap semangat

*) Foto 1: Firman, Widodo, Aji, Prof. Yoyo sedang berdiskusi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: