MERDEKA DI NEGERI JAWARA

negrijawara2.jpggolok.jpgPenerbit: Lumbung Banten
Penulis: Firman Venayaksa
Harga: Rp. 10.000,-

Sejumput tulisan yang terhimpun di dalam buku ini merupakan artefak yang saya ukir ketika saya menghirup udara Banten yang saya peras secara acak dari sekitar 100-an artikel menjadi 11 artikel.

Penyusunannya sengaja tak berurutan berdasarkan titi mangsa; Hal tersebut sengaja saya lakukan agar terkesan alamiah, bahwa pembuatan buku ini penuh dengan ketergesaan. Tidak ada konsep apapun selain berusaha agar terdokumentasikan dan menjadi salah seorang penulis yang disimpan karyanya di Lumbung Banten.

golok.jpgMengapa saya tak hendak kalah dengan Gola Gong dan relawan Rumah Dunia yang juga membuat buku indie label semacam ini? Karena kami percaya bahwa menjadi avantgarde jauh lebih mulia dari pada menjadi epigon. Di Rumah Dunia kami belajar untuk selalu bergegas dan harus kami akui kadang penuh ketergesaan. Itulah imbas dari kerja cepat.

Semua yang kami lakukan tentu memiliki alasan. Kerja cepat yang terus menerus adalah imbas dari ketertinggalan kita dibandingkan dengan wilayah lain. Hampir di setiap lini, Banten selalu tertinggal. Pernah suatu kali Banten menjadi leading sector, tetapi sebagai provinsi muda terkorup. Duhai betapa anehnya!

hfhdd.jpgUntuk itulah, dengan segala kesederhanaan, saya mengumpulkan tulisan-tulisan ini untuk didokumentasikan di Lumbung Banten, sebagai cara saya mencintai Banten.

Essay-essay di buku ini antara lain:p> Merdeka di Negeri Jawara
Endang Rukmana Sakit ½ Jiwa
Fenomena Komunitas dan Gerakan Kesusastraan di Banten
Bella, Kau Membuat Banten Cemburu!
Banten Star dan Kebudayaan Massa
Membaca Untirta Dari ”Tanda” Yoyo Mulyana
Boemipoetra, Anti Imperialis dan Ode Kampung #2
Sejarah Lebak: Kaca Spion yang Retak
Multatuli (Tak) Pernah Mati
Membaca kembali Multatuli dan Masyarakat Lebak
Duhai, Budaya Permisif dan Kearifan yang Adiluhung!
Reg (Spasi) Pembodohan Publik
Komunitas dan Regenerasi Kesusastraan di Banten
Siapa yang Layak Jadi Penulis?
Reinterpretasi Ilmuwan Akar Rumpu
t Pilrek Untirta: Persoalan Ikan Paus dan Ikan Teri
Konsep Rumah Dunia: Potong Generasi
***

MERDEKA DI NEGERI JAWARA
: Surat terbuka untuk Syair Langit

Syair anakku, 62 tahun sudah negara kita menghirup kebebasan, konon menjadi merdeka sebenar-benarnya. Pada malam kemerdekaan, aku dan bundamu mengajakmu menyaksikan pawai. Usiamu yang beranjak sembilan bulan, seperti biasa kami ajak jalan-jalan naik si Amir Hamzah, motor kreditan kebanggaan kita itu. Begitu semarak malam tersebut. Orang-orang tumpah ruang memadati tepi trotoar jalan, dan kita menjadi bagian dari mereka. Sayangnya, seperti biasa, kamu malah tertidur pulas dalam dekapan bundamu. Padahal suara orang-orang mulai berkecamuk. Riuh rendah pekik kemerdekaan menggelegar. Marching band, derap suara langkah tentara, polisi, Satpam, Hansip, hingga siswa-siswa dengan baju seragam pramuka melewati kita. Walau kamu tertidur pulas, aku ingin kamu merasakan untuk pertama kalinya bagaimana suasana ritual dalam memeringati kemerdekaan. ……..

*) Foto: cover buku Merdeka di Negeri Jawara
*) Fiorman (kanan) menyerahkan buku “Bicaralah Tanah” ke Nandang Aradea di nandur Lumbung Banten, Senin, 8 Oktober 2007  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: