MEMBANGUN IDENTITAS KULTURAL

lumbung-cek21.jpgOleh Firman Venayaksa*)

Pada umumnya istilah “lumbung” dikenal orang pedesaan di masa lampau untuk menyimpan hasil pertanian, berbentuk panggung dan berdinding anyaman bambu atau dikenal juga dengan nama rangkiang. Biasanya lumbung dihadirkan untuk persiapan menghadapi masa paceklik. Local wisdom yang dijalankan ketika itu menunjukkan betapa para petani begitu memikirkan persoalan masa depan. Mereka belajar berencana berdasarkan pengalaman mereka menghadapi masa sulit.

Di era kini, mungkin lumbung tak lagi terlalu penting. Dengan mudah kita bisa mendapatkan makanan di mana pun, yang penting ada materi untuk membeli. Dengan zaman yang serba instan, kita terkadang tak terlalu hirau dengan perencanaan yang matang. Semua serba cepat; orang-orang dtuntut untuk terus bekerja tapi tak sempat untuk merenung dan berencana. Kita tahu bahwa suatu saat akan menghadapi kesulitan, tapi seperti keledai, kita enggan bercermin menghadapi keadaan.

Di dalam tulisan ini saya ingin menegaskan bahwa masa lampau yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita nampaknya perlu kita telisik untuk menjadi alternatif hidup. Tentu saja kita tak perlu mengadaptasi semua hal yang dilakukan dahulu kala. Ada banyak kelebihan yang kita dapatkan di masa kini. Tak perlu semua orang mendirikan lubung padi untuk menunjukkan bahwa kita juga memikirkan masa depan. Yang penting untuk kita ambil dari refleksi sosial ini adalah bagaimana sebuah rencana bisa membuat orang lebih cermat menghadapi masa depan.

Dari semangat local wisdom inilah Rumah Dunia (RD) sebagai madrasah kebudayaan membuat Lumbung Banten, sebuah perpustakaan kecil, memfokuskan pada buku-buku yang berkisar tentang Banten dan mengumpulkan tulisan dari orang-orang Banten. RD tidak melihat siapa yang menuliskannya. Untuk sementara ini RD hanya ingin menyebarkan virus selanjutnya (pasca budaya baca) agar semua bergiat mendokumentasikan tulisan-tulisan. Pada akhir tahun ini semua relawan akan meluncurkan buku secara stensilan dan semua karya tersebut akan di simpan di Lumbung Banten.

Sebagai pecinta buku, saya dan kawan-kawan di Rumah Dunia memiliki semangat yang seirama bahwa sangat diperlukan sebuah tempat untuk menjadi pusat dokumentasi kebantenan yang hingga saat ini belum disadari banyak orang. Kegunaannya adalah untuk melacak masa lampu kita dan memberikan sesuatu untuk masa depan kelak agar kita tidak gamang dengan identitas kultural kebantenan.

Menjejaki masa lampu dan membidik masa depan merupakan pekerjaan yang semestinya kita lakukan bagi orang-orang berpikir. Menemukan kesejatian hidup penting bagi kita sebagai masyarakat yang menyelam dalam ranah kebudayaan. Namun banyak pula orang-orang yang gamang ketika ditanya tentang identitas kita sebagai orang Banten. Dengan mudah kita meproklamirkan sebagai orang Banten, hanya karena persoalan keturunan; menyandang Tubagus, sehelai akta kelahiran, atau bukti KTP sebagai formalitas. Dengan modal berpegang di seutas tali silsilah lantas kita dengan mudahnya mengklaim diri menjadi sosok yang maha pantas untuk mencitrakan diri sebagai orang yang sangat Banten. Tapi pernahkah kita bertanya apa yang sudah kita lakukan untuk Banten?

Saya tidak akan memperdalam persoalan Banten atau non Banten. Agaknya terlampau kering tulisan ini jika hanya membeberkan dan mengidentifikasi kebantenan yang selalu tak tuntas untuk disimpulkan. Pertanyaan di atas lebih diarahkan pada kemampuan kita dalam mencintai apa yang kita klaim tersebut, karena lebih banyak yang mengatakan bahwa kita orang Banten, tetapi yang terjadi malah merusak citra Banten.

Lantas sebagai orang Banten, bagaimanakah kita melacak diri kita? Hal paling cerdas untuk kita lakukan adalah dengan mengumpulkan “artefak” kebantenan, terutama berupa tulisan, di sinilah kegunaan Lumbung Banten. Kita bisa mengidentifikasi bagaimana orang-orang mengidentifikasi kita. Kita juga bisa bercermin diri berdasarkan bahan bacaan yang ditulis oleh orang-orang Banten, sehingga kebanggan yang kita dapatkan tidak nisbi adanya.

Ketika saya membaca kembali buku “Menjadi Orang Banten” yang ditulis oleh Abdul Malik, salah seorang penasehat Rumah Dunia, saya seperti diajak kembali melihat potret-potret Banten. Di dalam buku tersebut, saya menemukan sebuah tulisan yang sempat dipublikasikan pada tahun 2002 dengan judul “Tebar Sejuta Buku.” Ada permasalahan yang cukup menarik ketika salah seorang aktivis Ikayasa menanyakan kepada anggota DPRD kapan perpustakaan provinsi dibangun. Dengan santai salah seorang anggota DPRD bernama Muslim Djamaludin menjawab, “Sebelum membangun perpustakaan, harusnya dibangkitkan dulu semangat membaca di masyarakat. Buat apa membangun jika nantinya tak ada yang baca?” Pernyataan tak cerdas yang dilontarkan oleh anggota DPRD ini jelas bisa kita simpulkan bahwa mereka tidak ada kepedulian sama sekali terhadap rakyatnya, sehingga wajar jika hingga kini kantor perpustakaan provinsi masih ngontrak layaknya mahasiswa.

Sebetulnya masih banyak artefak lain yang saya dapatkan di dalam buku yang diterbitkan oleh Suhud Sentrautama, Rumah Dunia dan Sanggar Sastra Serang ini. Intinya dengan membukukan banyak hal tentang apa yang terjadi saat ini, kita juga mengabarkannya untuk masa depan kelak. Sayangnya kesadaran untuk membukukan tulisan-tulisan masih sangat rendah. Saya kira tak perlulah kita menunggu penerbit hebat untuk menerbitkan tulisan kita. Dengan gaya stensilan/ indie pun tetap saja sebuah buku akan memberikan banyak manfaat. Dan Lumbung Banten akan terbuka menyimpan dan memelihara tulisan Anda.

Dalam posisi ini, Radar Banten sebagai salah satu media massa yang cukup berhasil di Banten, harus memiliki kemauan untuk membukukan artikel-artikel yang setiap hari nongol di rubrik “Wacana Publik.” Andaikan RB memiliki komitmen kuat untuk membukukan, berapa puluh buku yang bisa kita baca dan bisa ditransfer untuk anak cucu kita. Begitupun dengan unsur akademisi. Di antara sekian ribu skripsi yang dilahirkan oleh mahasiswa dan ratusan penelitian para dosen, berkehendaklah untuk mengeluarkan modal dan membukukan penelitian yang dianggap menarik. Untuk apa lembaran penelitian itu dibuat jika pada akhirnya menumpuk di gudang perpustakaan atau lebih fatalnya dikilo untuk didaur ulang?

Semangat untuk mendokumentasikan terhadap apa yang telah kita tulis harus dimulai sejak dini. Rumah Dunia melalui Lumbung Banten adalah milik kita bersama untuk membangun identitas kultural. Dengan demikian, Rumah Dunia mengundang warga Banten untuk menghadiri soft launching pada tanggal 8 Oktober 2007. Semua orang beroleh kesempatan yang sama untuk menuliskan sejarah, karena sejarah adalah apa yang kita tulis hari ini.

*) Presiden Rumah Dunia, Dosen FKIP Untirta dan anggota Mazhab Pakupatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: