LUMBUNG BANTEN MULAI TERISI

lumbung-bicaranih2.jpgOleh Jang RuDun

Musim kemarau 2007 hampir dipastikan berakhir. Di minggu keempat puasa, hujan mengguyur Banten.

Anak-anak kampung bersuka-ria, berlarian di kaki-kaki hujan. Mereka selalu antusias menyambut air para malaikat itu. Sedangkan kami, orang dewasa, menyiapkan dekorasi panggung untuk “Nandur lumbung Banten”, Senin, 8 Oktober 2007, pukul 15.30. Undangan sudah disebar. Para pembicara; Pro.DR. Yoyo Mulyono, MeD (mantan Rektor Untirta Serang), M. Widodo (Pemred Radar Banten), dan Firman Venayaksa (Presiden Rumah Dunia) sudah menyatakan kesediaannya megnikuti ritual “nandur”.

leuitbaduy.jpgSERU
Sungguh luar biasa, ketika hari “nandur” itu tiba. Selepas Ashar, di saat kerongkongan kering, para “petani” itu berdatangan. Mereka sudah menggulung lengan baju dan ujung celana untuk ikut nyebur ke sawah dan menanam jenis padi unggulan, gar saat panen raya nanti – mungkin 50 tahun lagi – warga Banten bisa kenyang.. Ada Iwan K. Hamdan yang menyumbang buku terbarunya; Pendidikan dan Birokrasi di Banten (Penerbit Atsauroh, Serang), Mazhab Pakupatan, Gong Media Cakrawala dengan vcd beberapa film dokumenter; Jejak Multatuli, Profil Rumah Dunia, Wisata Study ke Monas, Belok Kiri [dilarang] Langsung, dan Ode Kampung. Film-film dokumenter itu karya Jack Lamota, yang kini mukim di Dubai, Abu Dhabi. GMC hanya menggandakan saja. GMC juga nandur “Padi Memrah”, dan “Si Aduy”.

Ya, nandur di hari pertama ini seru. Ada Heri Erlangga, Ketua Stikom Wangsa Jaya Banten, Djauhari Ardiwinata dari Banten TV yang membawa aktor film laga George Taka, Yos (Perpustakaan Humas Prov. Banten) dengan buku-buku terbitan Humas, Arif Kirdiat dari Optima, gerombolan Café Ide, Herfan FR dari Untirta, Rumi dari Matlaul Anwar, Radio Dimensi, Sulaeman Jaya (KNPI Serang), Nadang Aradea (sutradara), Bagus Bageni (KOnsorsium Pembaharu Banten), Agus Faisal Karim (kontributor SCTV), Banten Raya Post, Indo.Pos, dan masih banyak lagi. Sekitar 50 orang menghadiri dikusi.

Para pembicaranya Prof. Yoyo Mulyana (mantan rektor Untirta Serang), dan Firman Venayaksa (Presiden Rumah Dunia) naek panggung dipanggil.sang moderator, Aji Setiakarya. M. Widodo terlambat 10 menit. Kata Yoyo, “Lumbung Banten adalah hasrat untuk belajar, kegiatan kebudayaan, dan proses belajar yang tidak pernah berhenti.” Kami setuju, karena Rumah unia adalah pusat belajar. Profesor kita menambhkn, “Lumbung Babnen adalah sebuah kegiatan pengumpulan data. Peradaban sedang dibangun di sini. Saya siap menjadi bagian Lumbung Banten.”

Sedangkan M. Widodo (Pemred Radar Banten) mengingatkan, apakah Rumah Dunia sudah sanggup soal dana? Misalnya, bagaimana revitalisasi situs Banten Lama dan Karanghantu?” Firman menjelaskan, bahwa Rumah Dunia melakukan hal yang kecil dulu. “Tahap awal, pendokumentasian tulisan-tulisan dari penulis lokal. Itu pun RD baru sanggup secara indie label.” Gola Gong malah meminta kepada peserta, agar “Lumbung Banten” dipindahkan ke sebuah tempat, keluar dari Rumah Dunia. “Lumbung Banten harus menjadi sikap bersama. Harus diangnap milik bersama. Kalau bisa, tempatnya di gubernuran sekarang,” usulnya. Prof. Yoyo setuju.

BUKU
Pada saat nandur, ada 14 jenis “padi” unggulan yang ditanam. Yaitu padi jenis: 1. Rumah Dunia Riwayatmu: Menyusun Batu dan Bata – Gola Gong
2. Rumah Dunia Riwayatmu: Dari Korna ke Koran – Gola Gong
3. Merdeka di Negeri Jawara – Firman Venayaksa
4. Aku Berlabuh di Banten – Mushadiq Ali
5. Mall, Ubruk – Halim HD
6. Jelangkung – Langlang Randhawa
7. Konvensi dan Konveksi – GG
8. Bicaralah Tanah – Nandang Aradea
9. Lima Naskah TEater – Tias Tatanka
10. Surasowan Burak – Toto ST Radik
11. Gema Ramadhan – Tim Radar Banten
12. Keranda Merah Putih – GG
13. Mazhab Pakupatan
14. Birokrasi dan Pendidikan di Banten – Iwan K. Hamdan

Keduabelas jenis “padi” unggulan itu dijual seharga Rp. 10.000 untuk Serang. Dan Rp. 20 ribu untuk luar Serang. “Untuk ongkos pengiriman,” kata Aji, kuncen Lumbung Padi. Rencananya, setiap bulan ada 4 jenis padi baru yang disimpan di Lumbung Banten. Gong Media Cakrawala (lini film Rumah Dunia) pun sedang memformat ulang program “Festival Film Banten” untuk disimpan di Lumbung Banten. Jika ada yang tertarik ingin mengoleksi karya-karya film GMC, harga satu keping vcd Rp. 20.000,-
> Akhir acara, ada serah terima buku “Bicaralah Tanah” karya Nandang Aradea, melihat-lihat ruangan “Lumbung Banten”, dan buka puasa.<

> *) Jang RuDun, Humas Rumah Dunia
*) Foto saat diskusi, Prof. Yoyo. “Lumbung Banten adalah hasrat belajar!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: