NOOR SYAMSUDDIN CHAESY: BENAHI KAMPUNG DENGAN JURNALISTIK DAN SASTRA
October 20, 2007Meski sudah bertahun-tahun lama di “lembur” asing, tidak berarti menghilangkan ingatan Noor Syamsuddin Chaey kepada tanah kampung halamannya, Banten. Berbicara dihadapan para peserta Klub Diskusi Rumah Dunia (KDRD), Syam begitu kebanyakan orang memanggilnya, masih tegas mengingat kampungnya, Banten. Bahkan berkali-kali ia menunjukan dan melogatkan bahasa Sunda Banten, yang memang asli kampung yang terkenal dengan Jawara ini. Read the rest of this entry »
Soeraedi Tahsin Sandjadirdja: TOKOH PERS NASIONAL ASAL BANTEN YANG TERLUPAKAN
October 20, 2007
Oleh Bonnie Triyana – Dimuat di Radar Banten, Sabtu, 28-April-2007
Bangsa Indonesia adalah bangsa pelupa. Penyakit lupa itu tidak terlepas dari politik ingatan yang diberlakukan oleh pemerintah Orde Baru melalui rekayasa penulisan sejarah. Ingatan yang ditampilkan oleh Orde Baru seringkali bersifat selektif, parsial dan selalu mengacu pada pernyataan resmi pemerintah. Read the rest of this entry »
Gebar Sasmita: INVESTASI TAMAN BUDAYA DI BANTEN
October 20, 2007
Oleh fierly – Wartawan Banten Raya Post – Dimuat di Banten Raya post – Edisi Senin, 6 Agustus 2007
Desakan kepada pemerintah untuk segera membangun taman budaya atau gedung kesenian yang representatif, terus didengungkan seniman di Banten. Tak terkecuali pelukis aliran impresionis asal Pandeglang, Gebar Sasmita. Read the rest of this entry »
INDRA, ILUSTRATOR LUMBUNG BANTEN
October 19, 2007
Seminggu menjelang nandur Lumbung Banten, Senin 8 Oktober 2007, Indra Kesuma, tutor wisata gambar Rumah Dunia, termasuk yang ikut super sibuk. Lay out dari Gola Gong dan Aji dikirim ke Indra, digambari. Dia megnerjakan sekitar 14 cover buku dan ilustrasi dalam menggunakan pulpen ukuran 0,1 dan 0,3.
“Saya puas. Saya ikut bersemangat. Ini namanya kreatif. Miskin dana, tapi tetap bersemangat berkarya,” Indra, guru kesenian SMA A-Azhar Pakupatan, Serang, tersenyum. Bahkan Indra menerbitkan juga kumpulan puisinya. “Jangan dibedah, ya. Malu,” katanya. Judul puisinya “Syair-syair Cinta”. Puisi-puisi itu ditulis untuk istrinya di Palembang.
*) Foto: Indra tersenyum dengan cover-cover buku Lumbung Banten
Posted by lumbungbanten
Posted by lumbungbanten
Posted by lumbungbanten